Alkisah dahulu kala, waktu saya masih duduk di bangku SMA sebelum ada internet. Saya adalah pengunjung setia perpustakaan daerah. Di dalamnya ada beberapa ruangan yang dibagi berdasarkan golongan : anak-anak, usia sekolah (SD-SMA) dan usia dewasa (universitas, dsb). Saking rajinnya, maka saat duduk di kls 2 tidak ada lagi buku yang menarik di ruang usia sekolah. Diam-diam saya sering nyelinap di ruang dewasa dan membaca buku disana.

Baca-baca saja sih okay, tapi tidak bisa dibawa pulang. Saya protes dengan petugas karena tidak bisa meminjam. Ini adalah salah satu momen dalam hidup, dimana saya ngotot banget untuk memperjuangkan sesuatu. Saya tidak mau minat baca dibatasi usia atau aturan.

Karena petugasnya tetap bersikeras dengan aturan, maka saya minta bertemu kepala perpustakaan. Bertemu pejabat tidak gampang dan ada protokolnya. Tapi singkat cerita akhirnya saya bisa menghadap. Di hadapan beliau saya keluarin unek-unek dan cerita apa yang terjadi. Saya tidak suka jika minat baca dibatasi usia. Saya mau meminjam buku dari ruangan dewasa karena tidak ada lagi buku yang perlu saya baca di ruangan anak sekolah, bla..bla..bla..

Bapak yang baik itu setuju dengan alasan saya. Beliau kemudian memberi solusi, katanya, “Nak, saya suka dengan semangat membaca kamu, jadi saya pinjamin kartu saya dan kamu boleh pinjam buku sesukamu.”

Tapi saya tidak setuju sekedar dipinjamkan kartu. Saya mau aturan diubah. Kenapa menghadap pejabatnya, pakai ngatri dan protokol segala kalau tidak ada hal mendasar yang diubah? Buku yang saya inginkan sudah didapat tapi lebih dari itu saya mau agar semua remaja punya akses yang sama! Cie…

Demikianlah, itu ada di jaman dan di tempat yang berbeda. Waktu dimana jika ingin belajar lebih advance harus berjuang dulu ala2 pahlawan.

Sekarang, jaman sudah berubah. Informasi ada dimana-mana, bisa diakses oleh siapa saja. Tidak ada yang melarang. Gratis, murah. Namun, terjadi dimana anak2 menkonsumsi bacaan orang dewasa dan orang dewasa kemampuan bacanya setara anak-anak. Miris…

Mungkin karena orang dewasa sekarang dulu dibesarkan dijaman yang serba dibatasi dan distandarisasi, jadi yang namanya critical thinking tidak diasah.

Tapi kan anak-anak kita beda. Lingkungan mereka sekarang beda. Masa depan mereka juga beda.

Anak-anak ini disebut digital native, sementara orangtua dan gurunya bukan. Gimana para orangtua mau membimbing anaknya di dunia yang mereka sendiri tidak mengerti?

Pandemi ini telah me-reveal mana institusi sekolah yang benar-benar siap di era IT ini mana yang tidak. Apakah administrator, guru dan muridnya siap atau tidak? Apalagi terjadi dengan tiba-tiba tanpa ada persiapan sama sekali. Jikalau sekolah bergantung pada guru sebagai sumber utama dan texbook sebagai materi utama maka keadaan ini akan menjadi sangat sulit. Sampai kapan ini akan bertahan? Kita bahkan tidak tahu kapan social distancing akan diangkat.

Jika kita tahu jauh sebelumnya maka, murid-murid telah dipersiapkan dengan “How to Learn” dan bukan “What to Learn.” Melatih self-directed learning, dimana belajar adalah habit dan hobi, bukan hal yang dipaksakan.

Anak-anak juga sudah diajarkan gimana menjadi digital citizens yang baik, karena kalau jaman dulu pergaulan buruk adalah ancaman sekarang cyber community-lah tantangannya. Dengan informasi yang sangat kaya bahkan overloads, isunya bukan lagi haruskah memakai teknologi di classroom atau tidak, tapi bagaimana membaca, memilah dan mengolah informasi yang ada di internet supaya menjadi manfaat bagi yang belajar.

Dan masih banyak lagi soft skills yang harus dilatih bagi anak-anak kita seperti, creativity, communication, collaboratin, critical thinking, innovation, project-based, inqury-learning; yang tentu saja semua ini tidak diakomodasi dalam metode belajar konvensional kita.

Selain itu sebagai modal bertarung di 21th century market place, anak-anak kita butuh mengembangkan interpersonal and intrapersonal skills seperti grit, motivation, persistency, hard-working, goal-setting, self-reflection, time-management.

Pandemi telah memberi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Dan sebagai edukator, telah menjadikan ini cambuk untuk bangkit dan bertindak. Saatnya untuk melihat kedepan, gak perlu jauh kedepan, yang dekat-dekat saja. The future for our children bukan 5-10 tahun lagi. The future for our children is NOW.