Waktu akan pindah ke Amerika, saya senang karena sekolah anak-anak saya memakai iPad one-on-one (dengan harga sewa yang lumayan murah setahun).

Bayangan saya bahwa iPad akan dipakai seperti di Noble Academy, dimana para siswanya bisa berkolaborasi, mengadakan riset, membuat video, menyampaikan presentasi, dll.

Setelah sekolah berlangsung baru saya sadar bahwa iPad itu hanya digunakan untuk substitusi ‘book and pencil’. Misalnya textbook yang biasanya seabrek-abrek sekarang diinstal di iPad. Hanya beberapa textbook saja yang dibeli dari luar.

Perusahaan teknologi dunia seperti Google, Apple, Microsoft berlomba-lomba untuk menciptakan program dan aplikasi edukatif yang bisa dipakai sebagai bagian dari kurikulum sekolah. Namun tidak semua sekolah memanfaatkan kemajuan teknologi ini. Butuh reformasi kurikulum dan training yang memadai bagi guru, siswa dan orangtua untuk bisa sampai pada level ini.

Untuk meningkatkan semangat murid-murid belajar secara digital pertama-tama yang harus diubah adalah kerangka belajar. Dengan teknologi seharusnya para siswa belajar dengan lebih seru dan menarik tanpa sadar bahwa mereka sedang memproses banyak hal. Teknologi yang dipakai secara tepat akan meng-akselerasi pembelajaran. Jika seorang siswa biasanya belajar 10 tanpa teknologi, seharusnya ia bisa belajar 100 dgn bantuan teknologi tanpa merasa bosan atau kewalahan.

Di Noble Academy pemakaian teknologi dalam kelas ada pada level yang berbeda. Misalnya, beberapa waktu lalu saya mengajar sejarah World War I. Subject yang paling membosankan kan? Belajar sejarah di sekolah itu selalu ‘bete’. Menghafal tanggal dan peristiwa yang kemudian lupa. Tidak pernah dapat benang merah apa artinya peristiwa sejarah tersebut.

Tapi dengan teknologi saat ini belajar sejarah jadi menarik. Para siswa diberi waktu untuk membuat penelitian tentang WWI (dari beberapa sumber) dan menuangkan laporan mereka dalam bentuk iBook. Pada akhir semester, mereka bukan hanya belajar sejarah WWI namun juga belajar bagaimana cara meneliti, menulis dan mempublikasi laporannya.

Di Noble Academy, kami juga memiliki Virtual Reality lab. Dengan teknologi VR anak2 bisa mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang ada di negara atau benua lain. Misalnya, mereka bisa mengunjungi puing-puing kerajaan Inca atau melihat piramida di Mesir. Mereka kemudian membuat laporan dari apa yang mereka lihat dan membuat presentasi ke teman sekelas.

Dengan metode Inquiry-Based dan role play, setiap anak akan belajar dengan cara yang berbeda dan bisa diberi tugas yang berbeda. Misalnya, siswa A sebagai arkeolog, siswa B sebagai sosiolog, siswa C sebagai jurnalis, siswa D sebagai kurator, dst. Setelah belajar mereka akan bertukar informasi lewat presentasi.

Itu baru satu contoh integrasi teknologi dan kurikulum dari pelajaran Sejarah. Tentu saja beda subject, beda metodenya. Redefinisi integrasi dan kurikulum yang paling ideal ada pada Subject Passion Project, dimana para siswa belajar dengan metode project-based learning untuk menggali minatnya lebih dalam dan mengembangkan berbagai skills belajar mereka.

Belajar itu prosesnya seumur hidup. Jangan sampai ada yang berhenti belajar ketika lulus sekolah. Jika prosesnya menarik, belajar sampai tua pun tidak akan terasa.