Di Jepang, seorang ahli matematika bernama Noriko Arai membuat terkejut dunia pendidikan ketika ia menciptakan AI system yang mengalahkan 80% pelajar SMA dalam ujian masuk perguruan tinggi. AI itu dinamakan “Todai Robot”, punya score top 1% untuk Math dan Science. Dan dalam hal menulis robot itu bisa membuat essay 600 kata yang lebih baik dari kebanyakan siswa.

Bagi kita di Indonesia fakta harusnya membuat guru, orangtua dan kaum professional terjaga dan waspda mengingat posisi education rank Jepang menurut PISA (yang menguji kemampuan pelajar High School di bidang Math, Science dan Reading) ada di ranking 3, sementara Indonesia ada pada ranking 62! Apa hasilnya jika Todai Robot bersaing dengan siswa-siswa Indonesia?

Pada saat memulai Noble Academy, saya membeli beberapa google home speaker hanya untuk menunjukkan pada guru dan murid bahwa apapun yang bisa dijawab Siri atau Alexa tidak kita ajarkan di sekolah. Semua informasi, data dan fakta sekarang bisa diakses lebih cepat dan akurat lewat AI. Mengapa sekolah masih mengajarkan ini?

Sebagai educator, kita tidak menyiapkan anak-anak untuk masa lalu, tapi untuk masa depan. Di masa depan anak-anak tidak akan berkompetisi dengan sesama manusia, namun melawan AI. Dan masa depan bukan berati 10 atau 20 tahun ke depan, tapi sedekat besok hari! Segera setelah anak-anak kita tamat sekolah dan mencari pekerjaan.

Jaman lalu, jika seorang siswa tamat sekolah dengan nilai rata-rata maka iapun akan mendapatkan pekerjaan rata-rata. Tapi sekarang, “the average is over”, kata ahli ekonomi Tyler Cowen. Tidak ada lagi tempat bagi tamatan sekolah yang rata-rata. Setiap pelajar harus mempunyai sesuatu yang extra, yang akan menjadi “selling point”nya nanti. Pertanyaan yang harus diajukan pada para pelajar kita menurut Cowen, “Apakah Anda bisa bekerja dengan baik menggunakan AI system? Apakah skill Anda dapat melengkapi skill komputer atau malah hasil kerja komputer jauh lebih baik tanpa Anda?”

Kabar baik menurut Noriko Akai, bahwa ada area yang tidak bisa dikalahkan oleh komputer dari manusia yaitu : Critical Thinking, Creativity, dan Communication. Btw, Todai Robot hanya bisa mengalahkan 80% dari siswa di Jepang, karena 20% dari mereka bisa menjawab pertanyaan dengan cara yang kreatif dan exploratif. Selama “knowledge” berarti kemampuan mengingat dan mencari fakta, AI akan jauh lebih baik. Tapi jika “knowledge” berarti kreatifitas maka AI akan kalah.

Jika Anda ke Noble Academy, Anda akan dapati bahwa para siswa tidak diajarkan “pengetahuan”, tapi mereka diajarkan “cara berpikir’. Bukan diajarkan “what to study” tapi “how to study.” Selain dibiasakan dengan Higher Order Thinking Skills, mereka juga familar dengan 21th Century Skills, yaitu Creativity, Critical Thinking, Communication and Collaboration.

Sebenarnya metode pembelajaran 21th Century dan HOTS, bukan didesain hanya untuk siswa gifted saja, tapi seharusnya diterapkan pada seluruh siswa. Anak gifted hanya mendapatkan keuntungan dengan metode ini karena ini memberikan mereka keleluasaan untuk berpikir dan mencipta.

Akhirnya, mari renungkan kembali apa yang dikatakan oleh educational reformer, John Dewey yaitu, “IF WE TEACH TODAY’S STUDENTS AS WE TAUGHT YESTERDAY’S, WE ROB THEM OF TOMORROW.”

Sedihnya, karena John Dewey telah mengajukan proposal untuk reformasi sejak abad yang lalu tapi sampai sekarang, sistem pendidikan belum banyak berubah. Tapi kita tidak perlu menunggu semua berubah kemudian ikut arus. Perubahan adalah keputusan individu.