Joel mendekat waktu melihat saya mencoret-coret kertas lalu bertanya,” “Mami lagi ngapain?”

Tumben mungkin gitu pikirnya, selama lokdon maminya kalau gak baca berita nonton berita, tapi kali ini kok serius nulis2.

Tanpa suara saya mengetuk2 kertas dan menunjukkan satu kata yang tertulis di situ, “RESET”

“Okay reset, but for what?” tanyanya lagi.

“Reset everything, terutama planning untuk sekolah kita (Noble Academy)”

“Oohhhh….”

Dampak dari pandemi ini benar-benar luar biasa. Para ahli memperkirakan bahwa ketika semua selesai maka kondisi kita tidak akan kembali normal. Segala sesuatu harus di-reset. Reset dalam bidang economy dan geopolitic. Reset pada tingkat lokal maupun global. Termasuk tentunya reset untuk sistem pendidikan.

Dengan adanya perintah “stay at home”, study at home” maka sistem pendidikan kita telah dibawa pada satu level tertentu : Digital Learning!

Mau tidak mau, tanpa persiapan, tanpa simulasi, sekolah tiba-tiba launching model home-based learning masing-masing. Ada yang siap ada yang tidak. Ada cepat menyesuaikan dan ada yang tidak. Sampe2 Mas menteri meluncurkan program belajar dari TVRI untuk membantu guru dan orangtua.

Pandemi telah menjadi katalisator untuk terjadinya reformasi pendidikan; hal yang selalu didengung2kan tapi belum menjadi movement. Mayoritas edukator kalau ditanya pasti setuju bahwa sistem pendidikan kita yang terbentuk sejak jaman revolusi industri sudah kuno dan perlu diubah. Tapi berubah bagaimana? Kapan?

Nah, sekarang inilah jawabannya. Meskipun pandemi tidak dirancang buat reformasi pendidikan tapi ini adalah trigger yang akan menjadikannya kenyataan.

Saat ini tinggal SDMnya, yaitu para guru dan administrator sekolah apakah akan menjadikan kejadian ini sebagai opportunity or disruption?

Digital Learning adalah kabar baik sekaligus kabar buruk. Kabar baik bagi mereka yang mau berubah, siap berubah, mampu berubah. Tapi kabar buruk bagi mereka yang kaku, kepala batu, dan tidak suka hal baru.

Secara pribadi saya bersemangat. Karena saya penganut model pendidikan 21th century yang menekankan pada 4 C (creativity, communication, critical thinking, collaboration). Penekanan pada digital literacy juga sangat penting. Berangkat dari jatuh bangun mencari model pendidikan yang tepat bagi anak-anak saya sendiri sampai dengan mendirikan sekolah dengan prinsip dan fislosofi yang sama.

Kendala utama yang mungkin akan ditemui adalah mencari guru yang kompatibel. Selalu serba salah karena kita akan menghadapi plus minus. Mencari guru berpengalaman dan memiliki ijazah pendidikan guru, sering dowsidenya, bahwa mereka tidak terbiasa dengan 4Cs approach, digital literacy atau bagaimana meng-integrate technoloy with lesson. Sebaliknya, mencari guru paham technology dan digital literacy belum tentu mengerti pedagogy dan metode mengajar yang baik.

Pabrik guru kita masih sangat ketinggalan dalam menyiapkan guru-guru yang bisa terjun mengajar anak-anak dengan 21th century skillss. Fakultas ilmu pendidikan belum menjadi dept yang favorit atau yang utama. Profesi guru pun belum menjadi profesi yang diidamkam. Dan sepertinya masih lama bangsa kita akan mengarah kesana…

Tapi kita tidak perlu menunggu.

Satu-satunya jalan untuk memenuhi kebutuhan ini, adalah dengan menciptakan pabriknya. Menciptakan training center buat calon guru-guru berbakat sehingga seluruh skills yang dibutuhkan dalam mengajar di era IT ini bisa pelajari.

Inilah harapan terbesar saya dalam waktu dekat ini. Ada stakeholdres yang mau melihat ini sebagai opportunity dan ikut membangun bangsa dengan menciptakan pabrik-pabrik tempat dimana para calon guru berbakat dilatih dan diperlengakapi.