Di penghujung bulan Februari, salju di luar rumah menumpuk karena musim dingin yang panjang. Meski cuaca membeku beberapa bulan terakhir saya sangat sibuk dengan kegiatan charity. Kami juga sedang menantikan kehadiran putra pertama yang diperkirakan akan lahir di bulan April. Tapi karena kelelahan hari itu ketuban saya pecah dan seorang bayi laki-laki harus dicaesar pada dini hari, 7 minggu lebih awal dari jadwal dokter.

Karena lahir prematur ia harus tinggal di NICU selama 18 hari. Peraturan rumah sakit yang kaku hanya memberi ijin ibu menjenguk anak dua kali sehari, masing-masing maksimal 30 menit. Dengan baju yang steril dan sarung tangan, tidak diijinkan untuk menyentuh bayi itu. Kami hanya berdiri memandang dari luar tabung, bayi kecil keriput yang tubuhnya penuh dengan selang dan kabel.

Ini adalah salah satu contoh bahwa interupsi dalam pembentukan bonding bisa terjadi di luar kontrol orang tua.

Korelasi antara bayi yang lahir preterm dengan kekuatan bonding dengan ibunya sampai saat ini masih dalam perdebatan karena hasil riset yang pro kontra. Riset dari University of Warwick, UK menemukan bahwa mayoritas dari bayi yang lahir dengan BB yang sangat rendah memiliki attachment yang secure dengan ibunya, tapi juga mempunyai resiko dua kali lipat untuk memliki disorganized attachment. Sementara itu belasan studi lainnya menemukan bahwa bayi yang lahir preterm hanya memiliki resiko kecil untuk tidak memiliki attachment dengan ibunya. (*)

Yang paling penting menurut penelitian-penelitian ini adalah beberapa bulan pertama hubungan ibu-anak ini baik-baik saja. Kepribadian seorang anak terbentuk lima tahun pertama demikian juga dengan perkembangan otaknya. Banyak gangguan attachment yang bisa terjadi sata-saat ini karena kesalahan orang tua: tidak tahu mengasuh anak yang benar; hubungan yang tidak baik dengan suami dan keluarga; kaku, acuh dan tidak menunjukkan kasih ke anak; tekanan ekonomi; gangguan psikologis; dsb.

Kesulitan atau kehilangan attachment di masa kecil adalah prediksi yang hampir presisi anak itu mengalami kesulitan relationship di kala dewasa.

Masalah insecure attachment akan menjadi lebih rumit sewaktu anak beranjak remaja. Perubahan fisik dan hormon yang terjadi, bagian otak yang belum matang, tuntutan akademis dan peer pressure bisa menjadi beban bagi anak-anak ini.

Anak muda yang memiliki insecure attacment memiliki cara yang berbeda-beda dalam hal coping dengan lingkungan mereka. Ada yang baik-baik di sekolah tapi melepaskan stress serta negatifitas di rumah. Ada yang menarik diri dan mengisolasi diri. Yang lain berusaha untuk menjalin hubungan dengan teman-teman tapi dengan cara yang salah, mereka bisa menjadi bully, korban bully, bergaul dengan ‘wrong crowd’, clingy dan demanding, dominan dan controlling, atau menarik diri dari sekolah untuk menyenangkan teman-temannya.

Anak remaja gifted termasuk golongan yang beresiko terutama mereka yang memiliki intensitas intelektual dan emosional. Keceradasan dan sensitifitas yang sangat tinggi membuat mereka gampang mengalami existential depression. Perkembangan mental yang jauh lebih cepat dari usianya membuat ia mampu berpikir hal-hal yang terlalu berat yang secara emosi belum siap dihadapinya. (**)

Anak-anak remaja ini butuh support untuk menavigasi masa transisi ini secara baik sehingga bisa berkembang menjadi orang dewasa yang sehat. Seringkali keadaan keluarga yang sulit dipersulit dengan pengalaman-pengalaman buruk di sekolah. Mengingat sekolah adalah tempat kedua setelah rumah, dan teman, guru serta staff adalah keluarga kedua bagi seorang anak, maka pengaruh psikologis sekolah juga sangat tinggi.

Orangtua, guru dan staff sekolah harus mengerti keadaan dan cara menghadapi mereka. Karena dengan penanganan yang tepat, maka masa-masa sulit ini akan berlalu. Bukan tidak mungkin, meskipun dengan masa kecil yang kelam dan masa remaja yang sulit, seseorang berkembang menjadi seorang dewasa yang sehat jiwa raga bahkan sukses membina keluarga yang bahagia.

(*) https://www.google.com/…/51728354_The_effects_of_preter…/amp

(**) baca “Living with Intense and Creative Adolesence” (lihat foto)