Memulai sesuatu yang baru itu sulit, apalagi memulai sesuatu yang belum banyak dimengerti orang. Salah satunya adalah membangun pendidikan yang mengintegrasikan teknologi. Ada orangtua yang kuatir karena di sekolah semacam Noble Academy siswa lebih banyak menggunakan iPad daripada buku dan kertas. Orangtua yang biasa melihat tumpukan buku dan kertas-kertas ketika anaknya pulang sekolah sekarang tidak ada lagi. Apalagi untuk alasan Sustainability, Noble Academy mendukung gerakan “Paperless” sebisa mungkin. Kecemasan orangtua mungkin karena alasan yang benar tapi mungkin juga karena kurang paham.

Ada beberapa mitos yang di salah mengerti oleh orangtua tentang teknologi :

1. Teknologi membuat anak kecanduan
Orang bisa kecanduan apa saja: rokok, alkohol, tidur, belanja, kerja, olagraga, bahkan agama pun bisa jadi candu. Penyebab orang kecanduan bukan karena karena kebanyakan penggunaan tapi karena salah penggunaan. Kecanduan yang berat akan sesuatu dapat juga menandakan ada masalah psikologis yang lebih mendalam.

2. Anak selalu memakai gadget untuk bermain bukan belajar
Benar, kesulitan bagi penggunaan teknologi di sekolah karena anggapan anak-anak bahwa gadget sebagai alat untuk bermain. Dan itu bukan salah guru atau sekolah, melainkan orangtua yang sejak kecil membiasakan gadget menjadi babysitter atau penghibur agar anak tidak “menganggu” mereka. Padahal device seperti iPad, diciptakan untuk pendidikan dan profesianalisme. Ada banyak aplikasi pendidikan yang tidak pernah dimengerti dan dipakai oleh anak dan orangtua.

3. Kelamaan di depan screen membuat mata anak rusak
Terus terang saya tersenyum mendengar alasan ini. Karena untuk sekarang saja, pekerjaan yang tidak menuntut orang menggunakan screen adalah supir, pejaga toko, buruh pabrik atau pelayan restoran, apalagi jika 10 tahun kedepan? Penyebab kerusakan mata pada anak-anak sekolah bukan screen tapi myopia atau nearsightedness dan ini bisa terjadi juga jika anak terlalu membaca buku.

4. Teknologi membuat anak anti-sosial
Alasan lain yang membuat saya tersenyum. Orangtua kuatir kalau anaknya kurang sosialisasi terlalu karena teralalu lama belajar di depan komputer, tapi tidak sama kuatirnya ketika anaknya terlalu lama belajar piano, belajar memasak, atau membaca buku. Teknologi tidak menyebabkan anak anti-sosial. Tapi teknologi digunakan oleh anak yang introvert atau kesepian untuk dijadikan teman. Sebaliknya anak yang extrovert bahkan dapat menggunakan teknologi untuk network sosialnya. Solusinya bukan pada menghindari pemakaian teknologi tapi meningkatkan interpersonal skillsnya.

5. Teknologi berbahaya bagi kesehatan mental
Teknologi seperti media sosial bisa mengakibatkan hal-hal seperti cyberbullying, violent action atau depresi. Pantas membuat orangtua cemas. Tapi demikian juga dengan dunia tanpa teknologi. Kekerasan dan kejahatan selalu terjadi dimana-mana. Tidak ada orangtua yang akan membiarkan anaknya yang masih kecil dan belum siap hidup sendiri tanpa pengawasan. Mendidik dan mendampingi anak sampai mereka dewasa dan mandiri adalah tugas orangtua. Hanya saja dunia anak sekarang sudah termasuk dengan dunia internet. Mau tidak mau mereka akan menghadapinya. Mencegah mereka menggunakan teknologi sama dengan mencegah mereka terjun ke masyarakat. Mempersiapkan mereka dengan Digital Literacy lebih bijaksana daripada membatasi implementasi teknologi.

Kesimpulannya, teknologi adalah netral tergantung siapa dan bagaimana kita memakainya. Orangtua akan cemas untuk sesuatu yang baru, tidak familiar dan tidak dipahami mereka. Salah satu cara yang ditempuh oleh Noble Academy adalah dengan memberi pendidikan Digital Literacy bagi semua siswa, serta training bagi guru, orangtua dan murid untuk mengenal pemakaian teknologi yang menunjang pendidikan.