Ketika bertemu A (siswa Grade 8),  orang akan mengakui bahwa anak itu sangat cerdas; pengetahuannya luas dan idenya selalu out of the box. A adalah anak gifted yang memiliki kemampuan di atas rata-rata baik secara intelektual maupun kreativitas. Namun sayang, di sekolah A sering mendapatkan catatan merah dari guru. Nilai rapornya selalu pas-pasan. Ia tidak pernah serius mengerjakan tugas yang diberikan atau tidak mau menyelesaikannya. A memiliki penilaian negatif terhadap guru dan sekolah. Ia sering menyalahkan mereka untuk nilai-nilainya yang rendah. Menurutnya pelajaran sekolah membosankan dan para guru tidak cukup pandai.

Lain pula dengan kasus B (siswa grade 6). B adalah seorang anak yang rajin belajar. Ide dan pemikirannya jauh di atas usianya. Meskipun demikian, B juga tidak memiliki nilai yang baik di sekolah. Ia sering tidak menyelesaikan atau tidak mengumpulkan tugas. Berbagai alasan untuk menutupi kejadian yang berulang ini: lupa, hilang, komputer rusak, koneksi internet tidak baik. Pada nyatanya, B tidak mau mengumpulkan tugas jika tidak dianggapnya sempurna. Pada saat ujian B selalu mengerjakan dengan hati-hati dan berpikir berulang kali sebelum menjawab, itulah sebabnya B sering kehabisan waktu. Akhirnya nilai ujiannya rendah.  B adalah seorang anak yang perfeksionis.

Baik A dan B adalah anak gifted yang underachiever. Diskrepansi antara potensi kemampuan mereka dan performa terbilang jauh. Faktor penyebabnya beragam. Bagi A yang duduk di bangku sekolah menengah telah berlangsung lama sehingga sulit untuk di-investigasi. Apalagi A telah beberapa kali berpindah sekolah. Mungkin mulanya A tidak tertarik dengan cara belajar di sekolah atau bosan dengan pelajaran yang menurutnya mudah. Meski tanpa belajar dengan serius A selalu mendapatkan nilai yang baik. Ini mengurangi usaha belajar A, dan Ia mulai menganggap remeh pelajaran sekolah. Ia tidak menyadari bahwa pelajaran sekolah bertambah sulit setiap tahun. Tanpa daya juang, A telah kehilangan skill belajar yang penting ketika duduk di bangku SD.  Dan karena telah berlangsung lama, pada saat mencapai bangku SMP, A menjadi underachieved. Beberapa skill bisa pulihkan, namun skill lainnya hilang secara permanen.

Sementara itu B yang peragu dan takut salah, juga sudah menunjukkan tanda-tanda perfeksionismenya sejak kecil. B selalu memikirkan hal-hal yang ideal dan memiliki standar yang tinggi. Namun kemampuannya masih belum cukup untuk mencapai apa yang dianggapnya ideal itu. Karena selalu menarik diri dan mencari alasan yang cerdas, B juga tidak mengembangkan skill belajar yang penting pada waktunya. B akan selalu kesulitan di sekolah yang terstruktur rapi dan gagal saat mengerjakan soal ujian yang dibatasi waktu.

Banyak dari anak gifted yang underachiever juga memiliki kesulitan belajar yang tidak teridentifikasi. Karena ide mereka yang selalu cemerlang, kecerdasan jauh diatas rata-rata, orang tua dan guru tidak menyangka bahwa anak itu memiliki tantangan dalam belajar. Sebagian memiliki dyslexia atau dysgraphia, attention deficit, atau bermasalah dalam kemampuan processing speed dan working memory. Sebagian lagi tanpa masalah belajar namun terlalu lama underchallenged atau perfeksionis.

Ciri-ciri utama dari anak gifted yang underachiever: memiliki IQ sangat tinggi, tidak rapi, kemampuan yang tidak merata, sering tidak menyelesaikan tugas atau menghilangkan tugasnya, menyelesaikan tugas dengan asal-asalan, memiliki banyak alasan (termasuk kelupaan), menyalahkan guru, orang tua, teman akan kelalaiannya; sering menyebut sekolah membosankan, memiliki masalah perilaku (terlalu sering bercanda, membantah guru, membully anak lain).

Anak gifted underachiever membutuhkan penanganan khusus. Semakin lama seorang anak underachieved maka semakin sulit untuk merehabilitasinya. Resikonya adalah, kondisi itu akan berlangsung sampai dewasa. Jika seorang anak gifted underachiever dan tidak tertangani, bukan saja potensi dan kemampuannya yang luar biasa hilang, namun ada kemungkinan mempengaruhi perilaku secara negatif. Tantangannya ketika dewasa adalah sulit menyelesaikan pendidikan dan mencari pekerjaan yang tepat.

Kesimpulannya, IQ yang tinggi tidak menjamin masa depan yang cemerlang. Tidak juga menjamin anak akan menyelesaikan pendidikan tinggi dan sukses dalam kariernya. Ketika seorang anak kehilangan skill belajar yang diperlukan dalam karier dan pendidikan, maka giftedness tidak berarti apa-apa.

Untuk itu, perlu identifikasi dini anak-anak gifted yang telah menunjukkan ketidak-sukaan mereka terhadap sekolah dan mulai bosan belajar. Semakin dini intervensi diberikan maka semakin mudah untuk mengembalikan semangat belajarnya dan mengembangkan skill belajar yang esensial.