Belum lima menit saya bercakap-cakap dengan ibu A, anaknya yang berusia lima tahun mulai gelisah di depannya. Si kecil tahu betul bagaima mencuri perhatian ibunya.

“Nak, please duduk dulu ya, mama sedang ngobrol sama Ms. Nancy nih” kata ibunya berusaha tenang kemudian berpaling pada saya dan menjelaskan, “Gitulah Ms. dia gampang sekali bosan.”

Percakapan kita lanjutkan, tapi anak itu mulai naik turun tempat duduk dan mengganggu konsentrasi ibunya. Hanya berlangsung dua menit sebelum ibu A mengeluarkan jurus pamungkasnya, “Nih ambil… hati-hati ya.” 

Si kecil menyambar hp yang diulurkan ibunya dan berlari menjauh mengambil tempat yang paling nyaman di dalam ruangan. Di sudut mulut kecilnya ia menyeringai, bangga karena ia baru saja menang suatu pertarungan. Percakapan pun kita lanjutkan lagi tanpa gangguan sampai 50 menit kemudian. 

Orangtua, guru, dan masyarakat tahu betul bagimana membunuh kebosanan. Sedari kecil anak-anak seakan-akan tidak dibiarkan untuk mengatasi rasa bosan mereka. Secara instan semua kebosanan bisa diobati. Bermain game, menonton youtube, browsing internet, stalking di media social adalah beberapa contoh pembuhuh rasa bosan.

Namun sayang, pada saat kita menggunakan internet untuk rekreasi tanpa goal, otak kita hanya bekerja secara pasif dibandingkan ketika kita menggunakan internet dengan tujuan untuk belajar dan meningkatkan skills. 

Orang Indonesia menduduki peringkat ke-5 dalam pemakaian internet di dunia dengan 8.36 jam per hari. Bandingkan dengan Amerika 6.31 dan Jepang 3.45. Yang menarik adalah South Korea, meskipun menyadang negara dengan koneksi internet tercepat di dunia dilengakapi infrastruktur yang sangat maju, penduduknya hanya menggunakan intenet rata-rata  5 jam per hari. 

Perlu dicatat bahwa record yang dicapai oleh Indonesia sebagai pengguna internet terbanyak di dunia dalam hal waktu, bukanlah untuk belajar, meningkatkan skills atau bekerja tapi untuk rekreasi membunuh kebosanan.

Sebenarnya rasa bosan, adalah “urge for creativity”. Anak kecil sering bosan karena ide mereka banyak dan keinginan mereka untuk berimajinasi dan berkreasi. Tapi orangtua, sekolah dan masyarakat kita adalah pembunuh utama kretifitas itu dengan memberikan solusi instan untuk mengatasi kebosanan.

Semakin lama seorang anak belajar bagaimana membunuh rasa bosannya dengan melakukan hal-hal yang tidak produktif, sehingga akhirnya ketika dewasa mereka menjadi orang yang membosankan, kurang ide, malas berpikir.

Jangan heran, kalau anak-anak kita gampang menyerah dan kurang tangguh menghadapi tantangan. Kemampuan mereka untuk memecahkan masalah dan menghasilkan ide original sangat rendah. Ketika dewasa mereka pun tidak mampu mempertahankan pekerjaan yang menurut mereka sulit. Ditambah dengan internet dan dunia serba instan yang ada di sekeliling kita  yang memudahkan segala hal, maka matilah karya-karya besar yang harusnya ditemukan dan dikembangkan.

Mengatasi rasa bosan itu perlu, tapi semakin cepat dan gampang cara mengatasinya semakin sedikit kreatifitas seseorang yang terpakai. Berhadapan dengan kebutuhan dunia untuk inovasi kita memang ketinggalan sangat jauh.